Belajar didefinisikan sebagai semua perubahan pada
kapabilitas dan perilaku organisme, baik secara mental maupun fisik, yang
diakibatkan oleh pengalaman (Yovan, 2008). Kemampuan belajar merupakan alat
andalan dalam mempertahankan kehidupan. Menurut Potter (2002), ada dua kategori
umum tentang bagaimana kita belajar, yaitu pertama, bagaimana kita menyerap
informasi dengan mudah (modalitas), dan kedua cara kita mengatur dan mengolah
informasi tersebut (dominasi otak). Dengan demikian, cara belajar merupakan
kombinasi dari bagaimana menyerap, lalu mengatur, dan mengolah informasi.
Belajar berbasis pada konsep Peta Pikiran (Mind
Mapping) merupakan cara belajar yang menggunakan konsep pembelajaran
komprehensif Total-Mind Learning (TML). Pada konteks TML, pembelajaran
mendapatkan arti yang lebih luas. Bahwasanya, di setiap saat dan di setiap
tempat semua makhluk hidup di muka bumi belajar, karena belajar merupakan
proses alamiah. Semua makhluk belajar menyikapi berbagai stimulus dari lingkungan
sekitar untuk mempertahankan hidup.
Dari tinjauan Psikologis, belajar merupakan aktivitas
pemrosesan informasi, yang dapat diartikan sebagai proses pembentukan
pengetahuan (proses kognitif). Menurut Peaget, setiap anak memiliki skema (scheme)
yang merupakan konsep atau kerangka yang eksis di dalam pikiran
individu yang dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan
informasi. Sedangkan menurut Vygotsky, kemampuan kognitif dimediasi dengan
kata, bahasa, dan bentuk diskursus, yang berfungsi sebagai alat psikologis
untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental (Santrock, 2007).
Fakta yang harus disadari, bahwa dunia pembelajaran
bagi anak saat ini dibanjiri dengan informasi yang up to date setiap saat.
Ketidakmampuan memroses informasi secara optimal di tengah arus informasi
menyebabkan banyak individu yang mengalami hambatan dalam belajar ataupun
bekerja. Menurut Yovan (2008), hambatan pemrosesan informasi terletak pada dua
hal utama, yaitu proses pencatatan dan proses penyajian kembali. Keduanya
merupakan proses yang saling berhubungan satu sama lain.
Dalam hal pencatatan, seringkali individu tanpa
disadari membuat catatan yang tidak efektif. Sebagian besar melakukan
pencatatan secara linear, bahkan tidak sedikit pula yang membuat catatan dengan
menyalin langsung seluruh informasi yang tersaji pada buku atau penjelasan
lisan. Hal ini mengakibatkan hubungan antaride/informasi menjadi sangat
terbatas dan spesifik, sehingga berujung pada minimnya kreativitas
yang dapat dikembangkan setelahnya. Selain itu, bentuk pencatatan seperti ini
juga memunculkan kesulitan untuk mengingat dan menggunakan seluruh
informasi tersebut dalam belajar atau bekerja (Yovan, 2008).
Sedangkan dalam hal penyajian kembali informasi,
kemampuan yang paling dibutuhkan adalah memanggil ulang (recalling) informasi
yang telah dipelajari. Pemaggilan ulang merupakan kemampuan menyajikan secara
tertulis atau lisan berbagai informasi dan hubungannya, dalam format yang
sangat personal. Hal ini merupakan salah satu indikator pemahaman individu atas
informasi yang diberikan. Dengan demikian, proses pemanggilan ulang sangat erat
hubungannya dengan proses pengingatan atau remembering (Yovan, 2008).
Salah satu hal yang berperan dalam pengingatan adalah
asosiasi yang kuat antarinformasi dengan interpretasi dari informasi tersebut. Kondisi
ini, hanya bisa terjadi ketika informasi tersebut memiliki representasi mental
di pikiran. Contohnya, jika seseorang ingin mengingat “mobil”, maka sebelumnya
ia perlu merepresentasikan mobil dalam pikirannya, mungkin berupa gambar,
merek, harga atau kecepatan. Hubungan tersebut perlu dipahami secara personal,
sehingga setelahnya tercipta representasi mental yang lebih mudah diingat.
Bentuk pencatatan yang dapat mengakomodir berbagai
maksud di atas adalah dengan Peta Pikiran (Mind Map). Dengan peta pikiran,
individu dapat mengantisipasi derasnya laju informasi dengan memiliki kemampuan
mencatat yang memungkinkan terciptanya “hasil cetak mental” (mental computer
printout). Hal ini tidak hanya dapat membantu dalam mempelajari informasi yang
diberikan, tapi juga dapat merefleksikan pemahaman personal yang mendalam atas
informasi tersebut. Selain itu Mind Mapping juga memungkinkan terjadinya
asosiasi yang lebih lengkap pada informasi yang ingin dipelajari, baik asosiasi
antarsesama informasi yang ingin dipelajari ataupun dengan informasi yang telah
tersimpam sebelumnya di ingatan (Yovan, 2008).
Busan (1993) dalam Djohan (2008) mengemukakan, bahwa A Mind Map® is powerful graphic technique which provides a universal key to unlock the potential of the brain. It harnesses the full range of cortical skills – word, image, number, logic, rhythm, colour and spatial awareness – in a single, uniquely powerful manner. In so doing, it give you a freedom to roam the infinite expanses of your brain. Dari pengertian tersebut, Johan (2008) menyimpulkan bahwa Peta Pikiran merupakan suatu teknik grafik yang sangat ampuh dan menjadi kunci yang universal untuk membuka potensi dari seluruh otak, karena menggunakan seluruh keterampilan yang terdapat pada bagian neo-korteks dari otak atau yang lebih dikenal sebagai otak kiri dan otak kanan.
Ditinjau dari segi waktu Mind Mapping juga dapat
mengefisienkan penggunaan waktu dalam mempelajari suatu informasi. Hal ini
utamanya disebabkan karena Mind Mapping dapat menyajikan gambaran menyeluruh
atas suatu hal, dalam waktu yang lebih singkat. Dengan kata lain, Mind Mapping
mampu memangkas waktu belajar dengan mengubah pola pencatatan linear yang
memakan waktu menjadi pencatatan yang efektif yang sekaligus langsung dapat
dipahami oleh individu.
Menurut Yovan (2008), keutamaan metode pencatatan
menggunakan Mind Mapping, antara lain:
- tema utama terdefenisi secara sangat jelas karena dinyatakan di tengah.
- level keutamaan informasi teridentifikasi secara lebih baik. Informasi yang memiliki kadar kepentingan lebih diletakkan dengan tema utama.
- hubungan masing-masing informasi secara mudah dapat segera dikenali.
- lebih mudah dipahami dan diingat.
- informasi baru setelahnya dapat segera digabungkan tanpa merusak keseluruhan struktur Mind Mapping, sehingga mempermudah proses pengingatan.
- masing-masing Mind Mapping sangat unik, sehingga mempermudah proses pengingatan.
- mempercepat proses pencatatan karena hanya menggunakan kata kunci.
Mind Mapping bertujuan membuat materi pelajaran
terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam,
memperkuat, dan mengingat kembali informasi yang telah dipelajari. Mind Mapping
adalah satu teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar visual. Mind
Mapping memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam
diri seseorang. Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak maka akan
memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik
secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna, simbol, bentuk
dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.
Mind Mapping yang dibuat oleh siswa dapat bervariasi
pada setiap materi. Hal ini disebabkan karena berbedanya emosi dan perasaan
yang terdapat dalam diri siswa setiap saat. Suasana menyenangkan yang diperoleh
siswa ketika berada di ruang kelas pada saat proses belajar akan mempengaruhi
penciptaan peta pikiran. Dengan demikian, guru diharapkan dapat menciptakan
suasana yang dapat mendukung kondisi belajar siswa terutama dalam proses
pembuatan Mind Mapping. Proses belajar yang dialami seseorang sangat bergantung
kepada lingkungan tempat belajar. Jika lingkungan belajar dapat memberikan
sugesti positif, maka akan baik dampaknya bagi proses dan hasil belajar, sebaliknya
jika lingkungan tersebut memberikan sugesti negatif maka akan buruk dampaknya
bagi proses dan hasil belajar.
1 komentar:
Nice blog..
Visit and comment in my blog :)
nur-arfitri.blogspot.com
Posting Komentar